Komsos Ruteng June 4, 2018

 

Umat Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong mengarak Sakramen Mahakudus keliling paroki dalam rangka pesta pelindung dan Pesta Tubuh dan Darah Kristus, Minggu (03/06/2018)

Ekaristi adalah kehadiran Kristus yang menghibur/ menopang di dalam Sakramen Mahakudus. Keyakinan iman akan nilai akan kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus dimaknai sungguh oleh umat Katolik di Keuskupan Ruteng ketika melaksanakan prosesi Sakramen Mahakudus.

Dalam rangka Pesta Tubuh dan Darah Kristus dan pelindung paroki, Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menyelenggarakan prosesi akbar Sakramen Mahakudus Minggu (03/06/2018). Prosesi diawali dari halaman SDI Woang dalam ibadah yang dipimpin oleh Pater Lukas Larung, SVD dan didamping oleh Pastor Paroki Ka Redong Pater Konstantinus V.Beo, SVD. Kemudian, Sakramen Mahakudus diarak mengelilingi 5 kampung yaitu Woang, Ka, Redong, Tuke dan Mena.

“Dalam Ekaristi, hadirlah Kristus, Sang Penyelamat yang sama yang telah mengambil rupa manusia untuk wafat bagi kita di Kalvari, yang telah bangkit dan yang sekarang menyampaikan melalui kemanusiaan-Nya yang kini telah dimuliakan, berkat-berkat keselamatan,” kata Pater Lukas dalam homilinya.

Lebih lanjut imam dari Serikat Sabda itu menjelaskan tentang manfaat Ekaristi kepada ratusan umat yang memadati halaman SDI Woang. Dia menjelaskan betapa kita sebagai umat Katolik perlu memohon kepada Tuhan Yesus, agar membantu kita supaya hari demi hari kita dapat semakin menghayati kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Untuk itu, sepantasnya terus mensyukuri kehadiran Kristus dalam Ekaristi, yang selalu menyertai Gereja-Nya.

“Saat kita mengumandangkan lagu penyembahan Sakramen, biarlah hati kita juga terangkat untuk mengakui bahwa Kristus sungguh adalah Sang Roti dari Surga, yang senantiasa dicurahkan untuk menjadi santapan bagi kita yang masih berziarah di dunia ini, dan yang memandang kepada-Nya dalam kerendahan kita, agar Ia menuntun kita sampai kepada terang Ilahi-Nya di Surga,” urai Pater Lukas.

Setelah ibadat pembukaan di halaman SDI Woang dilanjutkan perarakan menuju rumah gendang Woang. Di perbatasan kampung itu, Sakramen dijemput secara adat Manggarai, layaknya seorang tamu agung yang mengunjung satu wilayah. Kemudian, perarakan berlanjut ke rumah gendang Ka, Gendang Redong, Tuke dan Mena. Di setiap titik itu penyambutan secara adat Manggarai juga diadakan oleh Umat.

Di setiap halaman rumah Gendang Sakramen ditahtakan yang dilanjutkan dengan pemberkatan Sakramen oleh imam untuk semua umat.
Prosesi itu diakiri di Kapel biara para Suster Penyembah Sakremen Mahakudus di bilangan Perumnas Ruteng.

Kanisius Jani, tokoh umat dan panitia prosesi, menyatakan proses sakramen ini diadakan dalam rangka perayaan Tubuh dan Darah Kristus dan pesta pelindung paroki. Untuk kelancaran prosesi ini, lanjutnya, panitia bekerja sama dengan Polres Manggarai unit dan Dinas Perhubungan. Kanisius berharap acara ini menjadi agenda tahunan Paroki Ka Redong.

“Kegiatan ini sudah dalam kalender tahunan Paroki dan diharapkan akan dilaksanakan setiap tahun. sehingga kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap Tahun di Paroki ini,” jelas Kanisius Jani.

Perarakan Keliling Kota Labuan Bajo

Sebelumnya, Paroki Roh Kudus Labuan Bajo dan Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Wae Sambi melaksanakan prosesi Sakramen Mahakudus di Labuan Bajo. Prosesi dalam rangka Pesta Tubuh dan Darah Kristus itu dilaksanakan pada Sabtu (02/06/2018) siang.

Dibuka dengan ibadat di Gereja Paroki Wae Sambi, arakan Sakramen Mahakudus menyusuri jalanan di dua Paroki itu dan berhenti di sejumlah lokasi tempat kekompok-kelompok umat berdoa. Prosesi berakhir di Gereja Paroki Roh Kudus Labuan Bajo.

Ribuan umat mengikuti prosesi ini, termasuk pejabat-pejabat pemerintahan Kabupaten Manggarai Barat. Sebagian dari mereka mengikuti arakan Sakramen Mahakudus dari titk awal hingga akhir. Yang lainnya menunggu di tempat-tempat perhentian.

Pastor Paroki Roh Kudus Labuan Bajo Rm Richard Manggu Pr mengatakan prosesi Sakramen Mahakudus dilaksanakan setiap tahun. Selain merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus, prosesi mau menunjukkan kekhasan warisan budaya dan agama masyarakat Labuan Bajo yang telah menjadi destinasi wisata dunia.

“Sudah tiga tahun kami buat dan akan terus kami laksanakan ke depan,” kata Romo Richard. (Willy Grasias, Sheila Kongen, Linda, Erick Ratu/Komsos Ruteng)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*