Willy Grasias May 20, 2018
Gua Maria di Paroki Kajong, Keuskupan Ruteng. Foto: Erick Ratu/Komsos Ruteng

 

(Oleh: Primus Dorimulu, alumni APK Ruteng, pemred Berita Satu, tinggal di Jakarta)

“Dan dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, Isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27).

Gereja Katolik meyakini, Yohanes, murid Yesus, mewakili  semua umat manusia yang percaya. “Ibu, inilah anakmu,” kata Yesus kepada Bunda Maria.  “Inilah ibumu,” kata Yesus kepada Yohanes. Bunda Maria menjadi ibu kita semua. Inilah salah satu landasan Biblis mengapa umat Katholik memiliki devosi yang tinggi kepada Bunda Maria.

Umat Katholik tidak berdoa kepada Maria, melainkan kepada Allah. Bunda Maria adalah perantara. Devosi kepada Bunda Maria adalah meminta doanya. Umat Katholik yakin, Maria adalah manusia yang paling suci, tanpa cela,  paling dekat dengan Allah, dan karenanya doanya paling manjur.

Bunda Maria adalah manusia paling beriman. “Terjadilah padaku menurut perkataanMu,” jawab Maria kepada Malaikat yang membawa amanat Ilahi (Lukas 1:38).  Bunda Maria adalah manusia paling tabah. Ia mengandung, melahirkan, memelihara, dan mendampingi Yesus hingga  kaki salib.

Bunda Maria adalah manusia sahaja dan rendah hati. Ia tidak merasa diri hebat karena dipilih Allah menjadi bunda Yesus.  “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48).

Bunda Maria selalu  menunjukkan kepekaan terhadap sesama yang tengah dirundung masalah. Pada sebuah  perkawinan di Kana, ia melihat tuan pesta kehabisan anggur. “Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3). Terjadilah mukjizat pertama di Kana, Yesus mengubah air menjadi anggur. Maria yakin, Yesus, putranya, mampu membuat mukjizat

Anak Maria akan selalu memanggil-manggil nama Bunda Maria. Ia tak pernah jemu Doa Rosario, mendaraskan berulang-ulang doa Salam Maria. Bukan hanya pada Bulan Rosario, Mei dan Oktober, umat beriman berdoa, melainkan setiap hari. Setiap saat. Tiga kali Salam Maria, lima kali Salam Maria, sepuluh kali Salam Maria, dan seterusnya.

Fokus utama doa Salam Maria adalah Yesus yang adalah Tuhan. Umat Katholik percaya, melalui Bunda Maria, mereka akan sampai pada Yesus. Dalam bahasa Latin, “Per Mariam ad Jesum”.  Ada keyakinan yang kuat bahwa sebagai manusia paling suci dan tanpa cela, doa Bunda Maria  adalah doa paling mustajab. Permitaan Bunda Maria kepada Tuhan pasti dikabukan. Karena itu, umat Katholik meminta doa Bunda Maria. Per Mariam ad Jesum. Melalui Maria, doanya dikabulkan Tuhan.

Doa Rosario adalah saripati dari Sejarah Keselamatan. Lewat Doa Rosario, umat Katholik mengenang seluruh kisah  Sejarah Keselamatan. Kita bisa melihat lima peristiwa yang dikenang pada Peristiwa Gembira. Ada peristiwa Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel, Maria mengunjungi Elisabeth, saudaranya, hingga Yesus ditemukan di Biat Allah. Begitu pula dengan lima peristiwa pada  Peristiwa Sedih, lima persitiwa pada Peristiwa Mulia, dan lima peristiwa pada Peristiwa Terang.  Setiap peristiwa terfokus pada Yesus, Tuhan kita.

Doa Rosario mendekatkan kita dengan Tuhan dan lewat doa Salam Maria yang berulang-ulang, kita yakin, kita akan selamat. Maria akan mendoakan kita, kini dan pada waktu kita mati.

 

Doa Salam Maria terdiri atas dua bait.

Bait pertama:

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.”

Bait pertama ini terdiri atas dua kalimat. Yang pertama adalah ucapan Malaikat Gabriel ketika memberikan kabar gembira kepada Perawan Maria. Malaikat Gabriel berkata, “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu,”  (Luk 1:28).

Kalimat berikutnya adalah salam Elisabeth kepada Perawan Maria, “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu,” (Luk 1:42).

Bait kedua adalah doa kita.

“Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”

Pada bait pertama jelas terlihat, fokus doa Salam Maria adalah Yesus. Bunda Maria disebut penuh rahmat karena dia dipilih Allah untuk mengandung,  melahirkan, dan membesarkan  Yesus. Roh Kudus, Roh Allah memenuhi dirinya karena Yesus. Elisabeth memuji Perawan Maria bukan karena diri Bunda Maria, melainkan bayi Yesus yang ada di dalam kandungannya.

Bait kedua merupakan doa kita. Kita meminta doa Bunda Maria dengan keyakinan bahwa doa Bunda Maria adalah doa paling mujarab. Kiranya Bunda Maria selalu mendoakan kita: sekarang, selama hayat masih di kandung badan, hingga ajal tiba.

Anak Maria tak akan bosan mendaraskan doa Salam Maria seumur hidupnya. Karena itu, anak Maria tak akan binasa. Seperti harapan dalam doa yang kita daraskan,  Bunda Maria akan mendoa kita: sekarang, di mana pun kita berada,  dan pada waktu kita mati. Amin.

Selamat berdoa, Tuhan memberkati.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*