Willy Grasias May 12, 2018

Pengembangan pertanian organik yang dilakukan oleh para petani dampingan Caritas Ruteng sejalan dengan rencana strategis Caritas Indonesia atau Karina dan Caritas Asia. Karena itu, pola yang mereka kembangkan dapat dipelajari dan diterapkan oleh lembaga Caritas keuskupan dan negara lainnya di Asia. Hal ini dinyatakan pimpinan kedua lembaga Caritas itu pada penutupan Workshop Caritas Asia di Ruteng, (9 – 11 Mei 2018).

Pimpinan lembaga Caritas Asia Agustinus Aribowo Nugroho menyatakan, tugas Caritas Asia yaitu mengoordinasi kegiatan lembaga-lembaga Caritas negara-negara yang bergabung. Adapun fokus perhatian Caritas Asia, menurut beliau, adalah pertanian berkelanjutan di kalangan masyarakat kecil.

“Kegiatan ini mengedepankan berbagai cara dan pendekatan menuju pemenuhan Prioritas Strategis Caritas Asia 3 tentang Keadilan Lingkungan dan Adaptasi Perubahan Iklim di bawah Rencana Strategis Regional Caritas Asia 2017 – 2020,” jelas Aribowo pada sambutan penutup Workshop di Wisma Efata Ruteng, Jumat (11/05/2018)

Caritas Asia, lanjut Aribowo, bertujuan memastikan pendekatan yang terkoordinasi dan relevan dalam peningkatan dan promosi teknologi pertanian berkelanjutan untuk komunitas petani kecil dan masyarakat petani. Untuk mengatur dampingan pengembangan kapasitas dan kegiatan pengembangan keterampilan baik di tingkat nasional dan regional, untuk meningkatkan kompetensi pada pertanian berkelanjutan tidak hanya di antara masyarakat sasaran, tetapi juga di antara staf Caritas.

Aribowo berharap, pengembangan pertanian organik yang dilakukan oleh Keuskupan Ruteng, seperti juga keuskupan lain di Indonesia dan Kamboja, ke depan jangkauannya lebih luas seperti Bangladesh, India, Pakistan, Sri Lanka, Nepal, Myanmar, Filipina, Timor Leste, Kazakhstan, Thailand dan perwakilan dari Caritas Belgia. Dengan lebih banyak negara yang berpartisipasi, diharapkan dapat berdikusi tentang pertanian berkelanjutan untuk memperkaya dan berbagi dari para peserta.

Direktur Eksekutif KARINA KWI RD. Antonius Banu Kurnianto menyatakan, pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan merupakan Rencana Strategis KARINA KWI 2018-2022. Ia menilai kegiatan ini mendukung upaya dalam rencana KARINA KWI membangun resiliensi komunitas. Pertanian yang ramah lingkungan da berkelanjutan adalah cara hidup baru untuk memastikan alam tetap lestari sekaligus memberi nilai tambah secara ekonomi untuk warga.

“Resiliensi ini akrab dipakai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB,” kata Rm. Banu.

Pesan ini penting, tambah Rm. Banu, manakala dunia dewasa ini sedang menghadapi perubahan iklim secara global, sehingga panas dan hujan terjadi di waktu yang semakin tidak menentu. Pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan adalah cara hidup baru untuk memastikan alam tetap lestari sekaligus memberi nilai tambah secara ekonomi untuk warga.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*