Willy Grasias March 5, 2018
Pastor Paroki St Vitalis Cewonikit Rm. Servulus Juanda, Pr

 

Hidup bersekutu dalam iman itu tidak sekali jadi. Ia perlu dirawat dengan aneka sikap hidup yang mendukung dan menjauhkan sikap hidup yang memecah belah. Pastor Paroki St. Vitalis Cewonikit Rm. Servulus Juanda menyatakan sejumlah sikap hidup yang perlu untuk membangun dan merawat hidup bersama komunitas Gereja dalam kotbahnya di Gereja Paroki Cewonikit, Minggu (03/03/2018)

Romo Selus bertolak dari cerita Injil tentang Yesus yang menyucikan Bait Allah. Yesus, dalam cerita itu, marah atas perilaku bangsa Yahudi yang menjadikan Bait Allah sebagai tempat jual beli dan sarang penyamun.

“Kemarahan Yesus menyangkut hal yang mendasar. Ia marah karena orang datang ke Bait Allah bukan untuk mencari Tuhan, berbakti dan memuji Tuhan, tetapi justru untuk mencari uang, mencari keuntungan pribadi, untuk menipu dan membohongi orang-orang yang hendak berdoa, beribadat, memuji dan memuliakan Tuhan. Terutama orang-orang kecil dan miskin,” kata Romo Selus.

Persekutuan yang solid dalam Gereja, menurut Rm. Selus, akan sulit terjadi jika sikap hidup seperti itu ada. Apalagi kalau ditambah dengan kebiasaan buruk lainnya, seperti berlaku tidak adil, memfitnah, serakah.

Lebih lanjut Romo Selus mendalami tindakan dramatis Yesus mengusir para pedagang dari pelataran Bait Suci. Tindakan Yesus itu dilandasi oleh cinta untuk mengembalikan tempat itu pada tujuan semestinya, yaitu untuk memuliakan Allah dengan hati yang bersih.

“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku (Yoh 2: 17). Kasih kepada Bapa ini yang menyebabkan Yesus marah melihat segala bentuk penipuan yang dilakukan di depan Bait Allah yang harusnya menjadi tempat yang suci, muliakan Allahmu dengan hati yang bersih”, jelasnýa.

Cinta kasih seperti yang dihayati Tuhan Yesus merupakan pupuk yang paling utama dalam merawat hidup bersama dalam iman. Artinya, Persekutuan gereja yang ingin dibangun mestinya diresapi oleh relasi cinta kasih Bapa, Putra dan Roh kudus.

“Paguyuban itu dijiwai oleh semangat kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri,” tutup Romo. Selus.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*