Doa Bersama Melawan Perdagangan Manusia

Perayaan Ekaristi: P. Tony Faot, CS., membawakan renungan dalam rangka Hari Doa Internasional Melawan Perdagangan Orang. Kegiatan di Aula Rumah Keuskupan Ruteng, Kamis (08/02/2018).

 

Mengambil bagian dalam perayaan Hari Doa Internasional Melawan Perdagangan Orang, sejumlah biarawan dan biarawati menyelenggarakan doa bersama di Aula Rumah Keuskupan Ruteng, Kamis (08/02/2018) sore. Kegiatan dengan tema “cahaya mewalan perdagangan manusia” diselenggarakan atas kerja sama Komisi Keadilan, Perdamaian, Migran dan Perantau (KKPMP) Keuskupan Ruteng dan Kongregasi Scalabrinian Ruteng.

Dimulai pada pukul empat sore, acara dibuka dengan pengantar yang dibawakan oleh Ketua KKPMP Keuskupan Ruteng Rm. Marten Jenarut, Pr. Ia menguraikan fakta maraknya perdagangan manusia di NTT, Indonesia, dan dunia.

“Menteri Sosial RI menyatakan NTT sebagai salah satu wilayah darurat human trafficking. Itu berarti, banyak korban perdagangan manusia yang berasal dari NTT; banyak transaksi jual beli manusia terjadi di NTT, dan banyak pelaku perdagangan manusia itu orang NTT,” kata Rm. Marten.

Peserta kegiatan Hari Doa Internasional Melawan Perdagangan Orang.

 

Pernyataan menteri sosial itu sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi di Lapangan. Di Pengadilan Negeri Ruteng, Rm. Marten mencontohkan, terdapat sebelas kasus perdagangan orang pada 2016.

Lebih lanjut Ketua KKPMP Keuskupan Ruteng itu menjelaskan, perdagangan manusia menuai perhatian dunia, termasuk Gereja Universal. Prihatin dengan maraknya pelanggaran kemanusiaan itu, Paus Fransiskus lalu menggagas Hari Doa Bagi para Korban Perdagangan Orang pada setiap 8 Februari.

“Kita tidak hanya berjuang secara manusiawi. Kita juga berdoa, meminta Tuhan untuk membantu karya-karya kemanusiaan ini. Kita berdoa agar Dia mengubah para hati pelaku, dan melindungi para korban,” jelas Rm. Marten.

Usai penjelasan Ketua KKPMP Keuskupan Ruteng, para peserta mendengar cerita pengalaman Sr. Lidwina Aliando, RGS. Kongregasinya menangani para buruh migran, korban perdagangan manusia, orang-orang bermasalah khususnya ibu dan anak-anak. Ia sendiri pernah berkarya selama lima tahun di Malaysia untuk membantu para migran asal Indonesia.

Sr. Lidwina Aliando, RGS

Dalam penuturannya, Suster Lidwina menyoroti akibat perantauan bagi ekonomi, keutuhan keluarga, dan pendidikan anak-anak. Perantauan tanpa dokumen resmi, kata dia, menyebabkan banyak hal negatif baik bagi para perantau maupun bagi keluarga yang mereka tinggalkan.

“Banyak migran yang membawa kebiasaan di kampung, seperti judi dan pesta. Jadi biar bertahun-tahun bekerja di sana, mereka pulang tidak membawa apa apa. Yang paling menyedihkan, saya melihat begitu banyak anak yang lahir di sana tidak mempunyai surat lahir. Itu karena bapa mama juga tidak mempunyai surat nikah,” cerita Sr. Lidwina, RGS.

Kegiatan diakhiri dengan perayaan Ekaristi dan doa khusus bagi para korban perdagangan orang. Misa dipimpin oleh pimpinan komunitas Scalabrinian Ruteng P. Tony Faot, CS., Dalam renungan, ia menegaskan, persoalan migrasi perlu ditangani secara menyeluruh. Untuk itu kongregasi-kongregasi dan lembaga-lembaga gereja perlu mengambil peran sesuai dengan karisma pelayanan masing-masing.

“Kita sebagai umat beriman, sebagai relawan-relawan katolik, komunitas-komunitas katolik, dalam karya misi kita, kita dipanggil untuk mewartakan, berkotbah, bersaksi tentang orang-orang yang ditindas; mereka yang suaranya tidak terwakilkan,” kata Pater Tony.

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *