HASIL SIDANG PASTORAL POSTNATAL 2018 KEUSKUPAN RUTENG

Sidang Pastoral Post Natal 2018 Keuskupan Ruteng, Wisma Efata (9 – 12 Januari 2018)

 

HASIL SIDANG PASTORAL POSTNATAL KEUSKUPAN RUTENG
TAHUN PERSEKUTUAN 2018
“MEREKA SEHATI DAN SEJIWA” (KIS. 4:32)
(RUTENG, 9—12 JANUARI 2018)
________________________________________

Pendahuluan

1. Gereja adalah persekutuan umat Allah yang disatukan berdasarkan persekutuan kasih Bapa dan Putra dan Roh Kudus (LG 4). Merujuk pada persekutuan Allah Trinitaris ini, kami, peserta Sidang Pastoral Post-Natal Keuskupan Ruteng sejumlah 300 orang, terdiri atas Administrator Apostolik, imam, biarawan/wati, ketua DPP, dan utusan KBG paroki bersidang di Wisma Efata Ruteng tanggal 9—12 Januari 2018. Dalam tahun ketiga implementasi Sinode III ini, dalam semangat persaudaraan dan sukacita, kami merefleksikan tema persekutuan: “Mereka Sehati dan Sejiwa” (Kis 4:32) dengan pola proses: melihat, menilai, dan memutuskan (3M).

2. Tema persekutuan yang direfleksikan bersama dalam sidang pastoral tahunan ini, berkaitan erat dengan tema-tema tahun sebelumnya. Liturgi sebagai perjumpaan mesra dengan Allah dirayakan dalam persekutuan. Kisah Para Rasul mencatat bahwa para murid Yesus “selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Demikian pula Sabda Allah dan sakramenlah yang membentuk Gereja. Akan tetapi, sekaligus Sabda Allah itu direnungkan dan diwartakan dalam persekutuan. Umat Allah Gereja Perdana selalu “bertekun mendengar pengajaran para rasul” (Kis 2:42).

3. Tema persekutuan ini sangatlah relevan dengan situasi zaman ini (“zaman now”) yang terlilit arus egoisme, materialisme, dan konsumerisme. Selain membawa dampak positif interaksi dan kesatuan umat manusia, globalisasi juga melahirkan alienasi budaya dan kesepian/kesendirian bagi banyak orang. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Gereja untuk hadir sebagai paguyuban yang memberi kekuatan dan kedamaian dalam hidup.

Evaluasi Tahun Pewartaan

4. Sebelum mengayunkan langkah ke depan, kami menoleh ke belakang untuk menilai program dan kegiatan dalam Tahun Pewartaan 2017: “Firman-Mu adalah Pelita bagi Kakiku dan Terang bagi Jalanku” (Mzm. 119:105). Ada berbagai program pastoral untuk mendorong agar Sabda Allah semakin dibaca/didengar, direnungkan, dan dihayati dalam hidup sehari-hari, yaitu: katekese umat, pembentukan dan pelaksanaan kelompok sharing Kitab Suci di paroki, pembentukan dan pelaksanaan komunitas pewarta, misa dan khotbah inkulturatif, rekoleksi (dan misa) tentang tema pewartaan-sabda Allah, ibadat sabda bulanan di KBG, sosialisasi penggunaan media sosial yang selek tif dan efektif, dan lomba Kitab Suci. Selain itu, dicanangkan dan dilaksanakan pula gerakan-gerakan untuk mengakrabkan Sabda Allah dalam kehidupan umat, yakni: gerakan mendaraskan doa Tahun Pewartaan, mengkidungkan lagu Tahun Pewartaan, satu KBG satu kitab suci Perjanjian Baru bahasa Manggarai, satu keluarga satu kitab suci, membaca kitab suci dalam setiap pertemuan paroki, penyebaran kalender liturgi tahunan, membaca kitab suci dalam doa malam keluarga, integrasi kitab suci dan katekese sakramen melalui sharing kitab suci, merenungkan Sabda Allah dalam doa rosario KBG, pembentukan grup media sosial paroki, menyebarluaskan teks Kitab Suci/ renungan melalui media sosial, puasa HP dalam momen dan tempat tertentu, dan menyebarluaskan Majalah Bengkes kepada umat.

5. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa paroki-paroki dan lembaga-lembaga di Keuskupan Ruteng telah berjuang untuk mengimplementasikan program dan gerakan Tahun Pewartaan dengan intensitas dan mutu kegiatan yang bervariasi. Dalam keterbatasan pelayan pastoral, kesadaran dan partisipasi umat, sarana dan prasarana yang mendukung, kami mensyukuri buah-buah pastoral yang dihasilkan seperti meningkatnya kerasulan Kitab Suci, katekese dan penggunaan media sosial untuk pewartaan di paroki dan lembaga. Selain itu, Sabda Allah semakin meresapi, menerangi, dan menuntun kehidupan pribadi dan bersama dalam keluarga dan masyarakat. Dan tidak kalah pentingnya, Sabda Allah semakin membuat kehidupan umat Allah di KBG, stasi/wilayah, paroki, kevikepan dan keuskupan berlangsung dinamis dan kreatif. Akhirnya, dari penilaian angket tentang keterlaksanaan program dan mutu proses kegiatan dalam tahun pewartaan diperoleh hasil berikut: proses perencanaan dan monitoring sudah berjalan dengan baik sedangkan nilai proses pelaksanaan dan evaluasi masih kurang, sehingga perlu ditingkatkan lagi.

Inspirasi Teologis dan Kultural

6. Sinode III Keuskupan Ruteng mengidealkan Gereja sebagai persekutuan (communio/koinonia) yang mewartakan Sabda Allah, merayakan liturgi, dan melayani manusia. Gereja memperjuangkan keselamatan bukan orang per orang, tetapi secara bersama dalam persekutuan sebagai umat beriman. Dia adalah Gereja persekutuan yang mengalir dari rahmat persekutuan Allah Trinitaris dan jati dirinya terwujud melalui partisipasi dalam persekutuan kasih ilahi Allah. Gereja persekutuan hadir untuk semua orang dan mengupayakan agar anggota-anggotanya sehati-sejiwa (Kis 4:32) dalam tuntunan Roh Kudus berziarah menuju kepenuhan Kerajaan Allah.

7. Gereja sebagai persekutuan adalah paguyuban orang-orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibaptis, yang terikat dan berinteraksi satu sama lain dalam ikatan kasih Kristus. Dalam perspektif biblis, Gereja persekutuan berkaitan dengan satu paguyuban atau persaudaraan dalam Yesus Kristus (Kis. 2: 41—42) yang sepikir, seia-sekata (1 Kor 1:10), sehati dan sejiwa (Kis 4:32), mendengarkan dan melaksanakan sabda Kristus. Melalui persaudaraan tersebut, Gereja membentuk dirinya sebagai umat Kristus yang anggota-anggotanya dibangun menjadi satu Tubuh Kristus (1 Kor 12: 13).

8. Paguyuban dimaksud mengedepankan hidup persaudaraan karena iman dan harapan yang sama; keikutsertaan semua umat dalam hidup menggereja; tuntunan hukum dan peraturan diperlukan, tetapi yang terpenting adalah peranan hati nurani dan tanggung jawab pribadi; sikap miskin, sederhana, terbuka, kerendahan hati, sukacita, dan kesetiaan. Paguyuban itu dijiwai oleh semangat kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal. 5:19:22—23).

9. Gereja Keuskupan Ruteng perlu mewujudkan Gereja sebagai persekutuan. Tekad tersebut memiliki dasar teologis yang kuat. Secara historis, panggilan keselamatan Allah untuk manusia bersifat komunal. Allah memanggil manusia bukan perseorangan, melainkan sebagai satu bangsa (LG 9). Demikian pula, panggilan para murid oleh Yesus Kristus (Mrk 3:14). Secara kristologis diakui bahwa melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah mepersatukan dan menebus semua orang menjadi satu umat (bdk 1 Ptr. 2:9-10), menjadi “Bait Allah yang kudus” (Ef 2:21). Secara pneumatologis, Gereja dibimbing oleh Roh Kudus (bdk.Rom.8:1—16; bdk.Flp.2:1). Roh Kuduslah yang mempersatukan perbedaan-perbedaan di antara manusia dan memampukan manusia untuk mengerti satu sama lain dalam perbedaan itu (bdk. Kis 2: 1—13; bdk. 1 Kor 12:1—11). Secara eklesiologis, kehidupan jemaat dihayati dalam persekutuan (Kis 2:42): mereka memecahkan roti (liturgi), tekun dalam pengajaran para rasul (kerygma) dan saling berbagi (diakonia). Dalam perspektif misiologi, perutusan Gereja juga bersifat komunal, “berdua-dua” (Mrk 6:7). Selanjutnya, dari perspektif Trinitaris, communio Gereja berpartisipasi dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal Mahakudus (bdk.1 Yoh 5:7; LG 4; GS 24; UR 2). Gereja adalah “umat Allah Bapa” (LG 2), Tubuh Kristus Sang Putra (LG 3), dan Kenisah Roh Kudus (LG 4).

10. Gereja Keuskupan Ruteng sebagai persekutuan juga memiliki dasar kultural yang kokoh. Kebudayaan Manggarai sebagai konteks khas Gereja Keuskupan Ruteng sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Manusia Manggarai pada dasarnya adalah makhluk multirelasional yang menghayati kesehariannya dalam persekutuan. Manusia Manggarai berelasi dengan sesamanya, dengan alam, dengan sejarah, dan dengan penciptanya yang disebut Mori Keraéng. Relasi-relasi tersebut membentuk persekutuan yang bersifat ca léléng do, do léléng ca (unus in pluribus, bhinneka tunggal ika).

11. Relasi persekutuan secara tidak terbantahkan merupakan kearifan lokal Manggarai. Hal itu terungkap dalam aneka simbol seperti: rumah adat (mbaru gendang), halaman kampung (natas), altar kampung (compang), kebun berbentuk sarang laba-laba (lingko/lodok), angka lima, sumber air (waé téku), forum musyawarah (lonto leok), dan tarian (sanda-mbata, vera dari Rongga. Simbol-simbol tersebut umumnya menggambarkan jaringan relasi manusia dengan sesamanya, alam, dan Tuhan (Mori Keraéng). Relasi-relasi itu harus utuh, solid, dan solider. Hal itu terlihat dalam ungkapan seperti “ca mbaru baté ka’éng, ca uma baté duat, ca waé baté téku” (satu rumah; tempat tinggal, satu kebun: tempat bekerja, satu sumber: tempat menimba); “gendangn oné, lingkon pé’ang” (kesatuan rumah adat dan kebun), “dod moso, ca kali lodok” (banyak bagian, tetapi satu pusat), “nai ca anggit, tuka ca léléng” (sehati-seperasaan), “nakéng ca waé néka woléng taé, ipung ca tiwu néka woléng wintuk” (satu dalam kata, satu dalam tingkah/tindakan), dll.

12. Mengacu pada landasan teologis dan kultural di atas, Gereja Keuskupan Ruteng berkomitmen mengusung tema persekutuan dalam tahun pastoral 2018 ini yang selaras dengan visi pastoral Sinode III Keuskupan Ruteng tentang persekutuan Umat Allah yang utuh, dinamis, dan transformatif. Dalam tuntunan Kristus, Sang Kepala, Gereja lokal Keuskupan Ruteng berjuang secara lebih giat untuk mewujudkan tali persaudaraan yang mencakup diri manusia yang utuh dan menyeluruh dengan dimensi spiritual dan ragawi, serta meliputi aspek kerygmatis, liturgis, diakonis kehidupan Gereja. Persekutuan itu tidak tertutup (eksklusif) dalam dirinya sendiri, tetapi terbuka (inklusif) menyapa dan merangkul orang-orang lain menuju terwujudnya persaudaraan dalam kemajemukan. Selain itu, persekutuan umat Allah Keuskupan Ruteng terus menerus ingin memperbarui diri sekaligus berkomitmen untuk menggarami dan meragikan dunia dengan nilai-nilai injili.

13. Fokus persekutuan dalam seluruh reksa pastoral tahun 2018 adalah komunitas basis gerejawi (KBG) (territorial). Sebab dalam komunitas inilah terjadi “perwujudan nyata Gereja” (FC 85) dan terlaksana “cara baru menjadi Gereja” (FABC, 1990). Dalam paroki/stasi sekaligus digalakkan persekutuan dalam kelompok kategorial usia seperti Sekami, OMK dan Lansia, kelompok kategorial profesi, komunitas rohani, kelompok rentan seperti keluarga migran, korban di kawasan lingkar tambang, petani miskin, difabel. Selain itu akan dikembangkan agar keluarga-keluarga didorong menjadi persekutuan iman yang dinamis (ecclesia domestica).

Program dan Kegiatan Pastoral Persekutuan

Terdorong oleh inspirasi-inspirasi teologis-kultural-pastoral di atas, kami bersepakat dan berketetapan hati untuk mewujudkan program dan kegiatan pastoral di Tahun Persekutuan 2018 berikut ini:

14. Pada level keuskupan dan kevikepan, kami berkomitmen menjalankan program:

a. Penguatan dan pemantapan struktur dan sistem KBG yang baku dan efektif melalui kegiatan penyusunan sistem KBG dan sosialisasinya bagi 84 paroki (2 kali di setiap kevikepan).
b. Pelatihan kepemimpinan KBG (TOT).
c. Camping rohani OMK-OMK paroki tingkat kevikepan (dan dialog lintas agama – program 3 hari).
d. Pendampingan Paroki dalam pembentukan/penguatan Sekami, OMK, komunitas rohani, kelompok rentan dan kelompok profesi.
e. Penguatan sosial ekonomi kelompok umat di wilayah lingkar tambang.
f. Penguatan kapasitas pendamping asrama/kos.
g. Penguatan pendidikan karakter Katolik di lembaga-lembaga pendidikan Katolik dan negeri.
h. Penyusunan modul baru KPPK dan pelatihan fasilitator KPPK paroki.
i. Penyadaran umat tentang figur pimpinan daerah dalam pilkada yang berkompeten dan berintegritas.

15. Pada level paroki, kami berkomitmen untuk menjalankan program dan kegiatan pastoral sebagai berikut:

a. Perayaan Misa pembukaan dan penutupan tahun persekutuan di paroki.
b. Melaksanakan Rekoleksi dan Misa dengan tema Tahun Persekutuan.
c. Berkatekese dengan tema Tahun Persekutuan (katekese umat, katekese sakramen, katekese tematis dalam momen tertentu).
d. Pendampingan calon pasutri dengan modul baru KPPK.
e. Perencanaan bersama program pastoral Tahun Persekutuan 2018 dalam DPP.
f. Mengevaluasi bersama program pastoral Tahun Persekutuan 2018 dalam DPP.
g. Berkaitan dengan KBG:

(1) Pendataan KBG.
(2) Restrukturisasi KBG.
(3) Sosialisasi sistem dan tata kelola KBG.
(4) Pembaruan kepemimpinan kepengurusan KBG.
(5) Pelatihan kepemimpinan KBG paroki.
(6) Penyusunan agenda tahunan KBG (ibadat mingguan/bulanan, doa rosario, katekese, pengakuan dan misa kelompok, kegiatan sosial).

h. Berkaitan dengan kelompok kategorial:

(1) Pembentukan/penguatan Sekami paroki
(2) Pembentukan/penguatan OMK paroki
(3) Partisipasi dalam camping rohani OMK kevikepan
(4) Pembentukan/penguatan minimal 1 (satu) komunitas rohani di paroki.
(5) Pembentukan/penguatan minimal 1 (satu) komunitas profesi di paroki.

i. Berkaitan dengan kelompok rentan:

(1) Pembentukan/penguatan kelompok ibu migran di wilayah kantong migran.
(2) Pembentukan/penguatan kelompok korban tambang di wilayah lingkar tambang.
(3) Pembentukan/penguatan kelompok solidaritas (seksi karitatif paroki).
(4) Pendataan kelompok difabel di paroki.

16. Berkaitan dengan gerakan-gerakan bersama Tahun Persekutuan, kami berkomitmen untuk:

a. Mendaraskan doa tahun persekutuan dalam misa hari Minggu/ harian, ibadat sabda KBG, pertemuan paroki, di sekolah-sekolah, komunitas, kantor.
b. Mengkidungkan lagu tahun persekutuan dalam perayaan Ekaristi dan dalam hidup sehari-hari (Lagu “Maju Bersama”).
c. Menamakan KBG dalam nuansa religious (biblis, santo/santa).
d. Membaca satu teks Kitab Suci harian yang dirangkaikan dengan doa dalam pertemuan KBG.
e. Mengupayakan lingkungan sehat KBG.
f. Mendaraskan doa malam bersama dalam keluarga disertai dengan membaca teks Kitab Suci harian.
g. Mendorong “keluarga menolong keluarga” (family helping family) melalui koordinasi KBG.
h. Merayakan hari Lansia tingkat paroki.
i. Merayakan hari difabel internasional di paroki.

17. Belajar dari evaluasi pengalaman pastoral di Tahun Pewartaan 2017, kami menyadari bahwa:

a. Perencanaan, monitoring, dan evaluasi program dan anggaran telah dialami sebagai kesempatan berahmat untuk saling sharing, belajar bersama tentang manajemen pastoral dan communio gerak bersama pastoral.
b. Perencanaan, monitoring dan evaluasi anggaran keuangan (budget) sangat membantu pelayan pastoral untuk menyusun anggaran pastoral secara proporsional, integral, dan mengembangkan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam tata kelola anggaran pastoral paroki.
c. Koordinasi dan kerjasama antara Puspas, Vikep, dan pastor paroki bersama DPP dalam implementasi program tahunan Sinode III perlu dikuatkan dan ditingkatkan.

18. Kami juga mengapresiasi dan mendorong:

a. Puspas Keuskupan Ruteng agar terus mengembangkan sistem manajemen pastoral yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, sistem monitoring, dan evaluasi.
b. Para Vikep untuk terus mengkoordinasi dan mengembangkan suasana persaudaraan, saling belajar, keterbukaan, membangun motivasi pelayanan dalam berpastoral.
c. Pastor paroki/lembaga agar terus mengembangkan sistem tata kelola pastoral yang kontekstual, integral, dan partisipatif.
d. Program pastoral mesti dirumuskan dengan target dan indikator yang tepat dan terukur, dengan kelompok sasaran dan penanggungjawab yang jelas, waktu dan tempat kegiatan yang sesuai serta dana dan sarana yang mendukung.
e. DPP dan DKP, pemimpin stasi dan KBG, pengurus komunitas rohani dan kategorial agar terus berpartisipasi dalam mewujudkan implementasi program Sinode III di paroki demi terwujudnya persekutuan Gereja yang semakin utuh, dinamis, dan transformatif.

19. Dalam konteks tahun politik 2018 dan situasi politik bangsa, kami berkomitmen:

a. Sebagai klerus terus menerus mewartakan politik nilai Kristiani yang memperjuangkan kebenaran, keadilan, kejujuran, solidaritas dan kesejahteraan umum di Manggarai Raya, sekaligus menghindari keterlibatan dalam politik kekuasaan.
b. Sebagai awam terlibat secara aktif, kreatif dan kritis dalam proses politik, seperti pemilihan pimpinan daerah, penyelenggaraan pemerintahan, dan pengawasan kekuasaan sehingga sungguh-sungguh diresapi oleh nilai-nilai injili.
c. Keuskupan, kevikepan, paroki, biara-biara dan lembaga-lembaga gerejawi menghindari pelbagai tawaran material dan hal lainnya yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan politik praktis tertentu.
d. Umat Allah Keuskupan Ruteng berjuang mengembangkan komunitas yang inklusif, toleran dan berdialog dengan semua orang dari pelbagai agama lain demi semakin terwujudnya kehidupan bangsa harmonis, adil-sejahtera, yang dibangun dalam kebhinekaan.

Penutup

20. Kami berkomitmen untuk mengimplementasikan program dan gerakan Tahun Persekutuan 2018 dengan kekuatan rahmat Allah dan sesuai panggilan Gereja sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” agar kami dapat “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”, yang telah memanggil kami keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Dalam dekapan cinta Bunda Maria, Bunda Allah, dan Bunda Gereja, kami berjuang untuk semakin menghayati semangat Gereja Perdana yang selalu “sehati dan sejiwa” dalam Kristus (Kis 4:32), Tuhan dan Kepala Gereja.

Ruteng, 12 Januari 2018
Dalam Suasana Persaudaraan Pastoral,
Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng,

Mgr. Silvester San

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *