Komsos Ruteng December 9, 2017
Prosesi Kitab Suci dalam rangka Pekan Puncak Tahun Pewartaan, Ruteng (09/12/2017)

 

Mengisi pekan puncak tahun pewartaan 2017, Keuskupan Ruteng menyelenggarakan prosesi Akbar Kitab Suci di Kota Ruteng, Sabtu (09/12/2017). Prosesi ekumenis itu dimulai di Lapangan Motang Rua dan berakhir di Gereja Katedral.

Lebih dari 5.000 orang umat hadir pada prosesi pagi hingga siang hari itu. Termasuk di dalamnya para imam, biarawan-biarawati, pejabat pemerintah, pelajar, dan utusan umat dari paroki-paroki sekeuskupan Ruteng. Selain umat Katolik, umat dari gereja-gereja yang tergabung dalam Persekutuan Gereja Kristen Indonesia juga hadir.

“Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama berbagai pihak. Mulai dari Panitia, pemerintah, dan juga terutama saudara-saudara yang bergabung dalam Persekutuan Gereja Kristen Indonesia,” kata seksi prosesi Kitab Suci Sr. Yohana SSpS.

Ekumene Perlu Dikembangkan

Dari Kiri: Pdt. David Supendi dari Gereja GBI Ruteng, Pdt. Siswati dari Jemaat GMIT Ruteng, dan Ketua Majelis Jemat GMIT Ruteng Pdt. Tress Mehanvi Bukang.

 

Prosesi Kitab Suci dalam rangka pekan puncak tahun pewartaan dilaksanakan secara ekumenis. Aspek ekumene terlihat dari keikutsertaan umat dari gereja-gereja yang bergabung dalam persekutuan Gereja Kristen Indonesia. Para gembala dari gereja-gereja Kristen menyatakan kekaguman mereka dan harapan agar kegiatan seperti ini perlu dilaksanakan lagi.

“Sangat bersyukur karena diperkenankan untuk melihat suatu peristiwa yang megah bagi kami, karena keikutsertaan banyak orang, mulai dari kecil sampai dewasa. Bahkan mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh. Kami ambil bagian dalam kegiatan ini dan kami mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Dan ini satu pengargaan bagi kami yang luar biasa. Dan ini tercatat dalam sejarah Gereja kami,” kata Ketua Majelis Jemat GMIT Ruteng Pdt. Tress Mehanvi Bukang.

Ia berharap kegiatan ekumenis seperti ini dilaksanakan terus setiap tahunnya. Ini tidak hanya meneguhkan persatuan sebagai orang-orang yang percaya akan Kristus, tetapi juga menunjukkan kepada dunia dan khususnya Indonesia tentang indahnya hidup bersama dalam keberagaman di wilayah Manggarai.

“Dalam rangka tema persekutuan yang menjadi fokus pastoral Keuskupan Ruteng tahun depan, kami ingin melibatkan diri lebih banyak lagi dalam kegiatan-kegiatan seperti ini,” kata Pdt. Tress.

Hal senada juga diungkapkan Pdt. David Supendi dari Gereja GBI Ruteng dan Pdt. Siswati dari Jemaat GMIT Ruteng. Kitab Suci, kata mereka, mempersatukan gereja-gereja. Dan itu sangat terasa pada kegiatan prosesi Kitab Suci secara ekumenis. Ia berharap kegiatan seperti ini dilanjutkan lagi.

“Saya bangga merasa bahwa kita adalah keluarga di dalam Tuhan. Harapan kita ke depan, akan banyak kegiatan seperti ini yang membawa kita untuk terus dibawa ke dalam kasih Tuhan yang lebih lagi,” kata Pdt. David.

“Kegiatan yang sangat megah ketika menyaksikan iring-iringan umat yang begitu banyak. Ini tentu menjadi langkah awal untuk kegiatan-kegiatan kebersamaan selanjutnya yang mempersatukan,” kata Pdt. Siswati

Sejalan dengan Visi Pariwisata Manggarai

Prosesi Kitab Suci yang dilaksanakan dalam rangka Pekan Puncak Tahun Pewartaan memiliki sisi budaya dan pariwisata hal ini perlu dikembangkan. Hal ini dinyakatakan oleh Ketua Komisi Pariwisata dan Budaya Keuskupan Ruteng Rm. Ino Sutam, Pr., dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai.

Warna budaya dalam prosesi, kata Romo Ino, jelas terlihat pada pengenaan kostum, lagu-lagu, tarian ronda, dan ibadat dalam bahasa Manggarai di halaman rumah adat Mbaru Wunut.

“Jadi ini sangat inkulturatif”, tegasnya.

Proses inkulturasi, jelas Romo Ino, mencakup dua aspek  yaitu dalam hal bagaimana Sabda itu mengakar dalam budaya Manggarai dan juga bagaimana budaya Manggarai diinterpretasi, direstrukturasi, dikembangkan dalam kerangka Injil.

“Dia (budaya) itu benih yang mesti dibesarkan dalam terang Injil. Pada pihak lain, inkulturasi berkaitan dengan bagaimana Injil itu mengakar dalam budaya, dalam bahasa, dan hati orang Manggarai,” kata Rm. Ino.

Lebih lanjut, Romo Ino menjelaskan, kegiatan prosesi Kitab Suci yang inkulturatif dan ekumenis bisa dikembangkan menjadi wisata rohani sekaligus budaya. Prosesi apa pun, mempunyai dimensi pariwisata. Itu terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia.

“Tadi ada beberapa tourist yang memotret. Ini sesuai dengan rekomendasi sinode. Kita mau mengembangkan pariwisata rohani. Ini tidak hanya untuk orang katolik, tetapi juga untuk orang-orang lain. Nilai-nilai kekatolikan, dan nilai-nilai kekatolikan yang dibudayakan juga bersifat universal. Tidak hanya religius tetapi juga universal manusiawi.

Ditemui di kantornya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Frumensius Linus Tojo Kurniawan menyatakan prosesi Kitab Suci ekumenis sejalan dengan visi pengembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai.

“Ini momen istimewa dan bersejarah, prosesi Kitab Suci ekumenis dalam rangka Tahun Pewartaan 2017. Kegiatan yang diwarnai juga dengan budaya Manggarai. Dan Kegiatan seperti ini sangat sejalan dengan visi kepariwisataan di Wilayah Manggarai. Budaya yang menjadi roh pengembangan pariwisata Manggarai, termasuk di dalamnya pengembangan wisata rohani,” kata Frumensius, Sabtu (09/12/2017).

Ia berharap pihak Gereja, pemerintah, dan masyarakat dapat bersama-sama mewujudkan mimpi besar pengembangan pariwisata Manggarai. Karena, Keuskupan Ruteng merupakan salah satu keuskupan dengan jumlah umat terbesar.

Rute Perarakan

Perarakan Kitab Suci dimulai dengan ibadat pembuka dan renungan singkat di Lapangan motang Rua. Rm. Manfred Habur, Pr membawakan renungan yang bertolak dari Sabda Bahagia Yesus, yaitu berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah (Mat 5:3).

Dari sana, Kitab Suci diarak menuju Gereja GMIT Emanuel dan diterima oleh umat dan gembala Gereja setempat. Pdt. Tress Mehanvi Bukang memimpin ibadat di halaman Gereja GMIT itu. Sementara, Pendeta David membacakan Kitab Suci dibacakan oleh Pdt. david. Dalam renungannya, Pdt. Tress mengupas dua hal dari Sabda Bahagia Yesus, yaitu tentang orang yang lemah lembut dan mereka yang lapar serta haus akan kebenaran (Mat 5:5-6).

Prosesi selanjutnya menuju Rumah Adat Manggarai Mbaru Wunut. Ibadat di ikon budaya Manggarai itu dilaksanakan dalam bahasa Manggarai. Rm. Ino Sutam dalam renungannya membahas Sabda Bahagia, yaitu tentang orang yang suci hatinya dan orang yang membawa damai (Mat 5:8-9).

Titik selanjutnya, Gereja Santo Yosef. Rm. Ompi, Pr. memimpin ibadat dan membawakan renungan di Gereja Katedral lama itu. Ia mendalami ayat Sabda Bahagia tentang berbahagialah orang yang berdukacita dan orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran (Mat 5:4.10).

Prosesi Kitab Suci berakhir di Gereja Katedral Keuskupan Ruteng dengan ibadat dan renungan yang dibawakan oleh Rm. Martin Chen, Pr. Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng itu membahas Sabda Bahagia tentang berbahagialah orang yang murah hatinya (Mat. 5:7).

1 thought on “Prosesi Kitab Suci Pada Pekan Puncak Tahun Pewartaan

Leave a Reply to Pdt.David Supendi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*