Komsos Ruteng November 18, 2017
Pertemuan Pastoral Kevikepan Labuan Bajo, Kamis (16/11/2017)

 

Para petugas liturgi dalam bahasa Manggarai mesti mempersiapkan diri sebelum perayaan. Selain itu para pastor dan seksi terkait pada Dewan Pastoral Paroki perlu melakukan sosialisasi kepada umat mengenai ungkapan-ungkapan yang kurang dimengerti. Jika perlu, penyesuaian dengan konteks setempat dapat dilakukan.

Diskusi pada pertemuan Kevikepan Labuan Bajo, Kamis (16/11/2017), menghasilkan hal-hal itu sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan dalam praktik selama ini. Tidak semua petugas dan umat memahami ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam teks doa dan bacaan Kitab Suci yang menggunakan dialek Manggarai. Akibatnya, umat dan petugas sendiri kurang menghayati pesan-pesan Sabda dan doa-doa liturgi.

Pentingnya persiapan diangkat oleh Pastor Paroki Wasesambi Rm. Ardi Obot, Pr. Ia meminta para imam untuk menyiapkan diri sebelum memimpin perayaan. Selain untuk memahami teks, persiapan itu diperlukan untuk menyesuaikan ungkapan-ungkapan dalam teks liturgi dengan konteks wilayah setempat.

“Para Pastor jangan hanya membuat banyak improvisasi. Yang lebih penting, kita diharapkan membaca dengan teliti teks-teks liturgi sebelum perayaan. Pengalaman konkret saya, ada kata ‘perkakas’ dalam satu teks liturgi yang memiliki konotasi negatif dalam dialek kempo. Saya mengganti kata itu dengan kata lain yang cocok dengan konteks Manggarai Barat,” cerita Pastor Paroki Wae Sambi Rm. Ardi Obot, Pr.

Vikep Labuan Bajo Rm. Robert Pelita, Pr. menegaskan harusnya persiapan itu dilakukan. Tidak hanya pastor yang memimpin perayaan, para pembaca Kitab Suci dan doa umat juga harus mempersiapkan diri.

“Setiap petugas yang membawakan bacaan atau doa harus siap. Jika perlu, bisa menyesuaikan beberapa ungkapan yang ada pada teks dengan kata-kata atau ungkapan pada dialek masing-masing,” kata Rm. Robert.

Sementara itu, Direktur Pusat Pastoral Rm. Martin Chen, Pr. menambahkan pentingnya sosialisasi. Ia menyatakan, perbedaan dialek memang tidak dapat dihindari. Bahkan, beberapa wilayah di Keuskupan Ruteng memiliki bahasa yang sangat berbeda dari Bahasa Manggarai. Akan tetapi itu tidak perlu menghalangi upaya inkulturasi yang sedang berjalan. Selain persiapan sebelum perayaan, yang perlu dilakukan adalah sosialisasi kepada umat.

“Jalan keluarnya, bukan terjemahan ke dalam setiap dialek. Akan tetapi ada ungkapan-ungkapan khas, yang tidak terlalu banyak, yang perlu dijelaskan kepada umat,” kata Rm. Chen pada pertemuan Kevikepan Labuan Bajo, Kamis (16/11/2017).

Terkait pentingnya sosialisasi, ia mengambil contoh penggunaan lagu-lagu pada buku Dere Serani. Lagu-lagu itu menggunakan dialek Manggarai itu sudah lama digunakan oleh seluruh umat. Sekarang, tidak ada yang mempersoalkan kata-kata atau ungkapan dalam lagu-lagu itu.

“Mengapa begitu, jawabannya sederhana. Lagu-lagu itu sudah disosialisasikan sehingga umat mengerti kalaupun ada perbedaan dialek,” kata RM. Chen.

Kedepan, kata Romo Chen, team penyusun liturgi inkulturatif di Pusat Pastoral akan menyertakan penjelasan pada teks liturgi dalam Bahasa Manggarai. Diharapkan itu dapat digunakan oleh para pastor dan petugas liturgi baik untuk persiapan diri mereka maupun untuk dijadikan bahan sosialisasi kepada umat.

“Kami akan membantu sosialisasi itu dengan menyertakan penjelasan pada buku liturgi. Ungkapan-ungkapan kunci pada teks liturgi dan bacaan Kitab Suci bisa dijelaskan di situ untuk kemudian disosialisasikan ke petugas liturgi dan umat,” tutup Rm. Chen.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*