Bentuk Team Konseling, Komisi Keluarga Siap Dampingi Keluarga yang Membutuhkan

Pertemuan Team Konseling Komisi Keluarga di Ruteng,
Selasa (13/06/2017)

 

Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng di bawah pimpinan P. Anton Tensi SMM bergerak Cepat. Tidak lama setelah resmi bertugas April 2017, ia membentuk team konseling dan sudah mulai melayani keluarga-keluarga yang membutuhkan pendampingan khusus.

“Team ini dibentuk sebagai respon atas kebutuhan keluarga keluarga Katolik yang mengalami situasi sulit atau krisis dalam hidup berumah tangga yang membutuhkan pendampingan pastoral khusus. Hal ini juga berangkat dari pengalaman kami sendiri yang kerap didatangi keluarga keluarga yang berada dalam situasi ini. Kami di komisi keluarga menganggap perlu membentuk sebuah wadah yang diatur dengan baik guna memenuhi kebutuhan pastoral ini,” tulis Pater Anton melalui Whatsapp kepada Komsos Ruteng, Senin (06/11/2017)

Team konseling Keluarga, lanjut Pater Anton, melibatkan para imam, biarawan, biarawati, dan awam. Beberapa di antara mereka adalah aktivitis pemerhati perempuan dan anak Weta Gerak, asuhan Suster-Suster Gembala Baik. Mereka bekerja sebagai volunteer di bawah koordinasi Komisi Keluarga.

“Ke depan, kami juga akan merangkul kelompok Marriage Encounter (ME) Keuskupan Ruteng untuk terlibat aktif dalam pelayanan ini,” tulis Pater Anton.

Panduan Bersama

Tim Konseling Komisi Keluarga melakukan sosialisasi melalui Radio Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai, Jumat (07/07/2017)

Sebelum diluncurkan, pada tanggal 13 Juni bertempat di aula Weta Gerak RGS, team ini telah mengadakan rapat konsolidasi team untuk menyatukan visi misi dan merumuskan panduan dalam melakukan konseling. Panduan dasar di antaranya: mengenai tugas-tugas konselor, prosedur, dan syarat mendapat layanan.

Tugas utama konselor keluarga, seperti diuraikan dalam panduan itu, adalah mendengarkan kisah orang pribadi yang didampingi (konseli), membantu konseli memahami situasi yang sedang ia alami dan bersama sama mengurai faktor pemicu/ penyebabnya, Konselor tidak memberikan solusi tetapi membantu konseli untuk menemukan solusi atas masalahnya dan mengambil keputusan sendiri.

Panduan itu juga menegaskan pelaksanaan konseling sebagai bagian dari pelayanan pastoral Geraja. Karena itu, dalam proses konseling seorang konselor hadir sebagai gembala yang baik dan berbelas kasih dengan setiap konseli. Dengan demikian melibatkan campur tangan Allah dalam keseluruhan proses.

Selain itu disepakati untuk menjamin kerahasiaan dan kenyamanan konseli. Untuk itu, konseling dilakukan di tempat khusus antara lain di Weta Gerak (milik suster Gembala Baik), di biara tempat konselor tinggal, atau rumah pribadi bila konselornya adalah pasutri/ awam.

Mengenai prosedur untuk mendapat layanan konseling, jelas Pater Anton, orang pribadi atau keluarga dapat menghubungi sekretariat puspas untuk memilih konselor yang ingin ditemui atau menghubungi konselor yang ada di nomor pribadinya serta menyepakati waktu yang memungkinkan kedua belah pihak untuk bertemu.

“Yang dibutuhkan dari keluarga yang membutuhkan konseling adalah kerelaan, kemauan dan trust untuk didampingi. Mereka tidak diminta biaya apapun,” tutup Pater Anton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *