Evarista Taranipa October 8, 2017
Komisi JPIC selenggarakan katekese ekologi di SMAK Gregroius Reo, Sabtu (07/10/2017)

Para pelajar perlu memiliki pemahaman yang tepat mengenai pertambangan dan dampaknya bagi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Dengan pemahaman itu, kelak mereka dapat menjadi agen yang memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan keutuhan ciptaan. Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Ruteng Rm. Marten Jenarut, Pr. menyampaikan itu di sela penyelenggaraan katekese ekologi bagi siswa SMAK Gregorius Reo, Sabtu (07/10/2017).

Pertambangan, kata Rm. Marten, perlu dijelaskan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait. Ini penting karena jila dilihat sepintas, pertambangan itu tampaknya menguntungkan. Tetapi jika dilihat dari banyak sisi lain, banyak hal yang dirugikan. Akibat yang ditimbulkan bisa menjadi bencana kemanusiaan.

“Pertambangan termasuk salah satu bentuk investasi yang mempunyai daya rusak terhadap lingkungan hidup. Bahaya pertambangan yang merusak lingkungan hidup itulah yang mendorong kami untuk melakukan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk kepada anak-anak sekolah,” jelas Rm. Marten.

Katekese yang dilaksanakan JPIC Keuskupan Ruteng dalam kerja sama Missio Augsburg mengangkat tema “basic rights of the people Relating to the damage of living environment caused by mining activities“. Malaui katekese ini, diharapkan para siswa memiliki pemahaman yang tepat mengenai pertambangan dan dapat membagikan pemahaman itu kepada masyarakat.

“Asumsi kami, anak-anak SMA memiliki kematangan berpikir yang cukup. Dengan itu mereka mudah memahami kerusakan ekologi yang terjadi. Mudah-mudahan dengan mengikuti katekese, para siswa memiliki pemahaman yang tepat mengenai pertambangan dan dapat membagikan pemahaman itu kepada masyarakat. Karena mereka berasal dari masyarakat dan tinggal bersama dengan masyarakat,” kata Romo Marten Jenarut.

Katekese ekologi kali ini sengaja diselenggarakan di Reo. Alasannya, Reo termasuk dalam wilayah dengan potensi pertambangan yang banyak. Bahkan, sebagian besar wilayah utara Keuskupan Ruteng memiliki potensi pertambangan.

“Mulai dari Elar sampai di Labuan Bajo, termasuk Reo, adalah wilayah potensi pertambangan. Sebagai wilayah potensi pertambangan, maka kita memliki keyakinan bahwa hampir pasti di wilayah ini akan terjadi eksploitasi besar – besaran. Itu berarti, kerusakan ekologi pasti semakin dahsyat,” urai Rm. Marten.

Sikap Gereja: Tolak Tambang, Bukan Anti Tambang

Beberapa tahun terakhir, Keuskupan Ruteng melalui Komisi Keadilan dan Perdamaian gencar melakukan kampanye tolak pertambangan di wilayah Manggarai Raya. Hal ini menjadi sikap resmi gereja setempat sebagaimana direkomendasikan dalam Sinode III Keuskupan Ruteng.

“Keuskupan Ruteng dalam Sinode III dengan tegas dan terang menyebut, Gereja Keuskupan Ruteng menolak tambang. Tidak berarti anti tambang,” kata Ketua Komisi JPIC Keuskupan Ruteng Rm. Marten Jenarut, Sabtu (7/10/2017).

Ketua Komisi JPIC Migran dan Perantau Keuskupan Ruteng Rm. Marten Jenarut, Pr.

Berdasarkan studi-studi yang dibuat, Rm. Marten menjelaskan, ternyata kegiatan pertambangan tidak membawa manfaat untuk masyarakat apalagi untuk lingkungan. Kegiatan pertambangan tidak memberi kontribusi yang signifikan untuk pembangunan di kabupaten, baik Manggarai, maupun manggarai timur dan manggarai barat. Sebaliknya, aktivitas itu justeru memperlihatkan ketidakadilan, manipulasi masyarakat kecil, dan tidak membawa manfaat terhadap masyarakat.

“Dalam konteks itulah kami sampai pada sikap bahwa Gereja Keuskupan Ruteng tolak tambang. Akan tetapi bukan berarti anti tambang. Kesejahteraan masyarakat Manggarai seluruhnya bisa ditopang oleh usaha-usaha bidang yang lain seperti peternakan, pertanian, maupun perikanan. Tanpa pertambangan, masyarakat manggarai bisa lebih sejahtera,” urai Rm. Marten.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*