Cerita Romo Yuvens tentang Pertanian OrganikCerita Romo Yuvens tentang Pertanian Organik

“Kerja main-main saja sudah mendapat hasil empat setengah juta. Apalagi kalau kerja sungguh-sungguh; bisa kaya.”

Peserta pertemuan bulanan Komisi di Aula Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng tersenyum-senyum mendengar kalimat Romo Yuvens Rugi Pr., Jumat (8/9/2017). Ia bercerita tentang sayur organik yang sedang ia kerjakan beberapa bulan terakhir bersama para romo, karyawan Puspas, pegawai di kantor ekonom dan rumah keuskupan.

“Iya, benar. Selama ini pekerjaan itu tidak serius. Hanya mengambil waktu sisa dengan lahan hanya beberapa petak. Ke depan lebih serius lagi dengan pembentukan kelompok tani. Dan coba bayangkan kalau satu setengah ton bibit kentang itu nanti berhasil,” lanjutnya meyakinkan peserta pertemuan itu tentang hasil yang menjanjikan dari usaha pertanian organik.

Belakangan ini, para romo, karyawan pusat pastoral, staf ekonom, dan karyawan di rumah keuskupan memang sedang giat mengembangkan pertanian organik. Lihat saja halaman tengah gedung Pusat Pastoral. Di halaman tengah gedung perkantoran itu berjejer plastik polibek. Semuanya penuh berisi tanah dengan tanaman di dalamnya yang sedang bertumbuh. Susunannya yang rapi, ditambah dengan dominasi warna hijau dari tanaman-tanaman itu, memberi nuansa keindahan tersendiri.

Demikian juga kalau melirik bagian samping dan belakang kantor. Di sana ada kotak-kotak tempat persemaian bibit. Selain itu, lahan yang ada dipenuhi oleh aneka jenis sayuran.

Romo Yuvens menceritakan, awalnya kecil-kecil saja. Mereka menanam sayur-sayuran seperti pak coi, kol, selada keriting, lombok, dan tomat di lahan kosong belakang gedung Kantor Pusat Pastoral. Lahan itu tidak lebih dari 25 meter panjangnya dan lebar empat meter. Mereka mengisi waktu-waktu luang dengan membuat bedeng, menyemai bibit, dan menanam sayur-sayur itu. Tidak sulit untuk memelihara tanaman-tanaman itu karena berada tepat di belakang kantor dan mereka membagi jadwal untuk menyiram. Sementara untuk menyuburkan sayuran, mereka menggunakan pupuk organik hasil olahan petani dampingan Caritas Keuskupan Ruteng.

Usaha itu kemudian diperluas. Mereka mengolah lahan kosong milik Keuskupan di Leda, Ruteng. Tidak jauh, hanya lima menit perjalanan dengan sepeda motor dari Kantor Pusat Pastoral. Dengan bantuan alat berat milik pemerintah, lahan seluas lebih dari dua hektar itu diratakan. Namun hanya seperempat bagian yang diolah untuk ditanami sayur-sayuran.

Hasil giat itulah yang diceritakan Romo Yuvens dalam pertemuan bulanan Pusat Pastoral. Ia bangga dengan hasil empat setengah juta dari kesibukan mengisi waktu kosong bersama para romo dan karyawan. Itu pun belum semua dipanen.

“Sebenarnya lebih dari itu. Karena hasil sayuran juga dibagi ke setiap karyawan untuk dikonsumsi sendiri,” cerita Romo Yuvens.

Ke depan, lanjut dia, karyawan-karyawan yang ada bersama para romo akan membentuk kelompok tani. Dengan kelompok itu, usaha pertanian organik bisa lebih serius mencapai hasil baik untuk konsumsi  sendiri maupun dijual ke masyarakat luas. Keuntungannya diolah untuk kepentingan anggota melalui wada koperasi simpan pinjam.

Sejalan dengan Rekomendasi Sinode

Sekilas terlihat aneh memang. Karyawan kantor justru disibukkan dengan pekerjaan di kebun. Apalagi kalau Anda hendak berurusan dengan pegawai di kantor-kantor itu. Tiba di Pusat Pastoral, misalnya, terlihat sepi, tidak ada orang. Setelah dikonfirmasi melalui telepon, yang dicari ternyata ada di kebun.

Akan tetapi sebenarnya tidak salah jika karyawan keuskupan mengolah lahan dan mengusahakan pertanian organik. Ada hal yang lebih penting dari dari sekadar mengisi waktu kosong atau mendapat keuntungan ekonomis dari kesibukan itu.

“Ini sejalan dengan rekomendasi Sinode III,” tegas romo Yuvens.

Kepada peserta pertemuan bulanan Pusat Pastoral, Romo Yuvens menguraikan rekomendasi Sinode III Keuskupan Ruteng tentang pertanian organik. Singkat tetapi jelas, menunjukan kedalaman pemahamannya terhadap hasil Sinode, terutama bidang pertanian yang terkait dengan tugasnya sebagai Manajer Program pada lembaga Caritas Keuskupan Ruteng.

Salah satu rekomendasi Sinode III Keuskupan Ruteng adalah menggalakkan pertanian organik di kalangan umat khususnya petani. Berikut adalah kutipan  Rekomendasi Sinode III Keuskupan Ruteng Sesi II tentang Pastoral Sosial Ekonomi (14 Mei 2014), Point I.A.14.

“Gereja berkomitmen untuk membangun dan mengembangkan pastoral agraris berbasis organik dan yang mengusahakan perubahan pola pikir dan pola tindak petani yang bertumpu pada kesadaran pertanian berbasis organik. Selain itu, Gereja menuntut pertobatan dari para pembuat kebijakan, produsen dan pengguna pupuk anorganik serta konsumen hasil-hasil pupuk anorganik.”

Tidak berhenti pada komitmen, bagian akhir rekomendasi itu bahkan telah menyepakati program-program dan kegiatan pertahian organik. Berikut kutipan lengkapnya dari Rekomendasi itu pada point B.c.

Dalam tema pertanian anorganik (sintetik), kami berkomitmen :

1. Mengasah kesadaran sosial kritis untuk mengubah mind set masyarakat dari cara pandang yang melihat dirinya sebagai “sentral segala sesuatu” menjadi sebagai mitra dialog dari segala yang ada. Pengembangan pertanian organik di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng melalui pembentukan kebun contoh di setiap paroki (Komisi PSE Keuskupan dan Paroki).

2. Menugaskan pastor paroki dan dewan pastoral paroki  untuk mensosialisasikan pertanian organik melalui mimbar dan katekese serta menyadarkan umat akan dampak negatif pertanian kimia anorganik.3. Menugaskan PSE untuk mengadakan penyuluhan dan pelatihan pengelolaan  pertanian organik dan pembuatan pupuk organik di semua paroki dan kelompok umat dalam wilayah Keuskupan Ruteng.

4. Menugaskan PSE untuk membuat dan menyediakan modul-modul yang berisi informasi dan pengetahuan pertanian organik di sekolah-sekolah.

5. Menghimbau pelayan pastoral agar dapat menjadi orang pertama yang mempraktikkan pertanian organik.

6. Mewartakan dan mengupayakan pertobatan bagi para pembuat kebijakan publik dan produsen serta konsumen produk-produk pertanian anorganik.

Kembali ke pertemuan bulanan Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, Jumat (8/9/2017). Usai cerita Romo Yuvens tentang kesibukan pertanian organik bersama para romo dan karyawan, Direktur Puspas Rm. Martin Chen menganggapi dengan memberi penegasan. Dia menegaskan kembali fokus perhatian Gereja Lokal Keuskupan Ruteng tentang pertanian organik itu.

“Kita memang sudah merancang satu tahun khusus untuk pertanian organik,” kata Rm. Chen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *