Keuskupan Ruteng

Jln. Ahmad Yani No. 10
Tromolpos 801 Ruteng 86508
FLORES NTT - INDONESIA
Telp : (0385) 21214 Email : keuskupanruteng@yahoo.co.id

 
Jurnal Online
jurnal concilium


SEJARAH SINGKAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
GEREJA KATOLIK DI MANGGARAI

 

Periode Misionaris Yesuit| Periode Awal Karya Misionaris SVD
Periode Pembentukan Struktur Hirarkis | Periode Keuskupan

 

Periode Misionaris Yesuit (sebelum tahun 1914)

  • Tahun 1910-1911, Misionaris Jesuit beberapa kali mengunjungi   wilayah barat Manggarai.
  • Tanggal 14-19 Juni 1911, Pastor Engbers, SJ, pastor tetap untuk Sikka, dengan menumpang kapal Kapten de Kock, datang dari Maumere ke Labuan Bajo. Dia mengunjungi orang Katolik asal Larantuka yang bekerja sebagai penyelam mutiara di Labuan Bajo. Di Labuan Bajo, Pastor Engbers mempermandikan anak-anak kecil orang Larantuka yang bekerja dan tinggal di sana. Dalam kunjungan tersebut, beberapa kali misionaris singgah dan berpastoral juga di Reo.
  • Tanggal 17 Mei 1912,  P. Loojmans, SJ, membaptis orang Manggarai pertama masuk agama katolik di Reo. Mereka adalah Katarina (Arbero), Henricus, Agnes Mina, Caecilia Weloe, dan Helena Loekoe. Mereka dibaptis dalam usia dewasa dan langsung menerima sakramen nikah suci pada hari yang sama. Periode karya misionaris Yesuit merupakan masa evangelisasi secara sporadis di Manggarai.

Periode Awal Karya Misionaris SVD (tahun 1914-1920).

  • Oktober 1914: Mgr. Petrus Noyen, SVD,  berlayar ke Reo, Labuan Bajo, dan kemudian ke Ruteng.
  • November 1915: Mgr. Petrus Noyen, SVD,  melakukan hal yang sama.
  • Tahun 1916-1920: P. Wilhem Baack, SVD, selaku Inspektur Sekolah Misi menjelajahi wilayah Manggarai dari jurusan Timur: Waemokel, Borong, Sita, Ruteng, Reo, sambil merayakan ekaristi dan mempermandikan umat.

 

Periode Pembentukan Struktur Hirarkis (tahun 1920-1961).

Tampak dari samping Gereja Kathedral Lama. Setelah dipugar lagi, Gereja ini dikembalikan bentuknya seperti semula, walau candinya tidak menjulang seperti ini lagi. Sekarang Gereja ini menjadi Gereja Devosional. Perayaan ekaristi di Gereja ini, dilaksanakan pada pukul 11.00 tengah hari, setiap hari, kecuali hari Minggu.

 

Tahun 1920-1924: Stasi-stasi induk misi katolik mulai dibentuk.

Tanggal 23 September 1920: Didirikan stasi induk Ruteng sebagai pusat wilayah misi Manggarai bahagian tengah. Stasi ini dipimpin oleh P. Bernard Glaneman, SVD, yang berdomisili di Ruteng.

Tanggal 6 Maret 1921: P. Wilhem Yansen, SVD, tiba dan kemudian menetap di Lengko Ajang sebagai pusat misi di wilayah Manggarai Timur.

Tanggal 6 April 1924: P.  Franz Eickmann, SVD, datang ke Rekas sebagai pusat wilayah misi di Manggarai barat.

Tahun 1925: sudah ada dua paroki dengan: 7.036 umat di Manggarai.

Tanggal 29 September 1929: Gereja Katolik Manggarai mendapat status Dekenat dengan Deken pertamanya : P. Thomas Köning, SVD.

Tahun 1929: Mulai dirintis pembangunan Gereja Katedral.

Tahun 1931: Pembangunan Gereja Katedral selesai.  Ini merupakan simbol awal persatuan Gereja Katolik Manggarai.

Tanggal 8 Maret 1951: Dekenat Manggarai ditingkatkan statusnya menjadi  Vikariat Apostolik  Ruteng  dengan Vikaris Apostolik pertama P. Wilhelmus van Bekkum, SVD.

Tanggal 13 Mei 1951: P. Wilhelmus van Bekkum, SVD, ditahbiskan menjadi Uskup.

 

Periode sebagai Keuskupan (tahun 1961 - sekarang)

    A. Masa Episcopat Mgr.  Wilhelmus van Bekkum, SVD. (1961-1972)

    Sebagai Uskup Ruteng yang pertama, Mgr. Van Bekkum meletakkan dasar yang kokoh untuk secara intensif memulai karya penyebaran dan pendalaman iman. Sejak mengemban jabatan sebagai Vikaris Apostolik, Mgr. Van Bekkum menaruh perhatian yang amat besar pada upaya pembaharuan liturgi di dan dari daerah Misi. Tidak heran kalau pembahasan-pembahasannya tentang Liturgi dalam Konsili Vatikan II mendapat perhatian besar.
    Selain itu pembagunan-pembangunan sekolah dan pemekeran paroki terus dijalankan. Pada tahun 1971-1972 telah terdapat 267 buah Sekolah Dasar enam tahun dengan 40.620 orang murid, di samping 12 buah Sekolah Menengah Pertama dengan 1.593 orang murid, dan sebuah Sekolah Menengah Atas dengan 89 orang siswa. Kehadiran sekolah-sekolah ini menjadi media dan sarana pewartaan yang efektif bagi pendewasaan dan pematangan iman.

    Selain itu pembagunan-pembangunan sekolah dan pemekeran paroki terus dijalankan. Pada tahun 1971-1972 telah terdapat 267 buah Sekolah Dasar enam tahun dengan 40.620 orang murid, di samping 12 buah Sekolah Menengah Pertama dengan 1.593 orang murid, dan sebuah Sekolah Menengah Atas dengan 89 orang siswa. Kehadiran sekolah-sekolah ini menjadi media dan sarana pewartaan yang efektif bagi pendewasaan dan pematangan iman.

    Pada masa ini juga pelan-pelan dimulai dan dirintis usaha pemandirian di bidang ketenagaan. Sampai dengan tahun 1968 tercatat ada 17 orang pemuda Manggarai yang menjadi imam, dengan perincian 8 orang imam SVD, 5 orang imam Fransiskan, dan 4 orang imam Sekulir. Pada tahun yang sama  ada 25 orang mahasiswa teologi dari Keuskupan Ruteng, yakni 12 orang SVD, 6 orang Fransiskan, dan 7 orang calon imam Sekulir. Sementara itu jumlah murid yang belajar di Seminari Kisol terus meningkat. Sampai dengan tahun 1972 siswa Seminari Kisol berjumlah 190 orang.

    Kehadiran para suster di wilayah Keuskupan ini semakin banyak. Pada tahun 1960, selain suster-suster Abdi Roh Kudus, telah ada pula beberapa orang suster Konggregasi Pengikut Yesus (CIJ). Mereka datang dari Jopu dan bekerja di Waerana. Sejak tahun 1968 hadir pula suster-suster Ordo Ursulin yang berkarya terutama di bidang pelayanan sosial. Seiring dengan pertambahan waktu, kongregasi suster-suster yang berkarya di Keuskupan Ruteng semakin bertambah.Pada tanggal 29 Januari 1972, Mgr. Van Bekkum secara tertulis menyatakan pengunduran diri dari tanggung jawab atas Keuskupan Ruteng. Pernyataan ini dibacakan oleh Uskup Agung Ende pada tanggal 30 Januari 1972 di Gereja Katedral Ruteng, yang kemudian disusul oleh pengumuman dekrit Kongregasi Penyebaran Iman tentang pengangkatan Pater Vitalis Djebarus, SVD menjadi Administrator Apostolik Ruteng. Tanggal 31 Januari 1972, Pater Vitalis menerima pengangkatan sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng.

    Sampai dengan tahun ini, di Keuskupan Ruteng telah ada 45 wilayah paroki, dengan total jumlah umat 299.318 jiwa. Mereka dilayani oleh 59 orang pastor, 12 orang bruder, 45 orang suster, dan 72 orang katekis.

    Mgr. Wilhelmus van Bekkum
    tiba di Ruteng pada bulan Januari 1937. Pater van Bekkum memusatkan perhatian pelayanannya pada bidang etnologi dan persekolahan. Pada tanggal 8 Maret 1951, Bapa Suci Paus Pius XII menetapkan pemekaran Vikariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil menjadi tiga Vikariat Apostolik, yakni Vikariat Ende, Vikariat Larantuka, dan Vikariat Ruteng. Pada tanggal 13 Mei 1951, Mgr. Van Bekkum ditahbiskan menjadi uskup. Uskup pentahbisannya adalah Mgr. Henricus LevenMotto episkopalnya: Immaculata Cordis Sacrum

     

    B. Masa Episcopat Mgr. Vitalis Djebarus SVD. (1973-1981)

    Mgr. Vitalis Djebarus, SVD lahir di Wangkung, Rahong pada tanggal 1 Mei 1929. Pada tahun 1942, ia menamatkan Vervolgschool (VVS) di Ruteng, dan melanjutkan pendidikannya di Seminari Menengah di Mataloko. Pada tahun 1950, ia masuk novisiat SVD di Ledalero, dan selanjutnya menyelesaikan studi di sana. Pada tanggal 14 Januari 1959, ia ditahbiskan menjadi imam di Ledalero. Sebagai seorang imam, ia berkarya di Ledalero selama 12 tahun. Pada tahun 1961, ia mengikuti kursus Jurnalistik di Munchen, Jerman, dan selanjutnya studi teologi asetis di Universitas Angelicum, Roma. Ia datang ke Ruteng pada tanggal 31 Januari 1972 untuk mengemban tugas sebagai Asministrator Apostolik Keuskupan Ruteng. Selanjutnya pada tanggal 5 Mei 1973, ia ditahbiskan menjadi uskup Ruteng yang kedua.

    Mgr. Vitalis mengemban jabatan sebagai Uskup Ruteng bersamaan dengan masa indonesianisasi di Indonesia. Wacana tentang adaptasi, inkulturasi, indigenisasi, Indonesianisasi, umat basis, mandiri, berdirikari sudah agak biasa, terutama di kalangan pelaku pastoral. Kepada Gereja Lokal Keuskupan Ruteng, ia menyodorkan program PAROKI  BERDIKARI yang meliputi tiga bidang, yakni pemberdikarian mental, pemberdikarian material, dan pemberdikarian personil. Pemberdikarian mental dimaksudkan agar iman umat diperdalam dan dimatangkan sehingga dapat dinyatakan dalam kehidupan harian sesuai kedudukan masing-masing. Program ini dijalankan melalui katekese, khalwat, dan rekoleksi. Pada masa ini katekese umat mulai diperkenalkan sebagai cara pewartaan dan pendalaman iman yang kena dan efektif. Sedangkan pelajaran agama di sekolah mendapat angin baru dengan kehadiran buku pegangan guru dan murid Tuhan dalam Hidup Kita.

    Pemberdikarian material dijalankan dengan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada dalam diri umat dan paroki. Kolekte dan iuran paroki mulai diwacanakan, dan tanah-tanah paroki dimanfaatkan demi menyumbang keuangan paroki. Semua ini dihidupkan agar umat memilki kesadaran akan tugas dan tanggung jawab untuk membangun kehidupan material paroki. Sedangkan pemberdikarian personil dimaksudkan agar Gereja Lokal sanggup menyediakan tenaga pelayanan pastoral, seperti klerus, religius, dan katekis. Keuskupan Ruteng memiliki potensi yang kuat berkaitan dengan program ini. Di Keuskupan Ruteng telah berdiri Seminari Kisol dan APK, dua lembaga yang amat berperan dalam melahirkan tenaga pelayanan pastoral. Pada tahun 1975 Keuskupan Ruteng malah telah sanggup menyumbang tenaga-tenaga katekis bagi keuskupan-keuskupan lain, misalnya ke keuskupan-keuskupan di Kalimantan.

    Selain program pemberdikarian, Mgr. Vitalis juga mengembangkan kerja sama yang kritis antara Gereja dan Pemerintah. Dalam cara yang elegan, ia kerapkali mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang rasional, sampai-sampai pada tanggal 7 Juni 1977 terjadi ledakan mengejutkan, yakni penarikan kembali perbantuan semua Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada Yayasan SUKMA (Yayasan Persekolahan Umat Katolik Manggarai) melalui surat bernomor UP. 021.5/877 yang dialamatkan kepada pemimpin SUKMA (Rm. Edu Jebarus, Pr, Op.Cit., hal. 132-133).

    Tugas kepemimpinan Mgr. Vitalis berlangsung selama kurang lebih 9 tahun. Pada tanggal 4 Januari 1981 ia dibebaskan dari jabatannya sebagai Uskup Ruteng dan sekaligus diangkat menjadi Uskup Denpasar. Sampai dengan saat itu, di Keuskupan Ruteng telah ada 47 wilayah paroki, dengan total jumlah umat 388.318 jiwa.

    Sejak kepindahan Mgr. Vitalis ke Denpasar, tugas kepemimpinan Keuskupan Ruteng ditangani oleh Pater Gerardus Mezenberg, SVD sebagai Vikaris Kapitularis. Tugas ini dijalankan Pater Mezenberg sampai dengan tanggal 15 Desember 1983, hari ketika Romo Max Nambu, Pr diangkat menjadi Administrator Diosesianus. Romo Max mengemban tugas ini sampai dengan tanggal 25 Maret 1985, hari pentahbisan Mgr. Eduardus Sangsun, SVD menjadi Uskup Ruteng.

    Motto: Domine ut Videam

    C.   Masa Episcopat Mgr. Eduardus Sangsun, SVD. (1985-2008)

    Mgr. Eduardus Sangsun,
    Uskup Ruteng: 1985-2008.
    Motto:
    Et Habitavit in Nobis

     

    Tanggal 3 Desember 1984: P. Eduardus Sangsun, SVD, diangkat oleh Tahta Suci menjadi Uskup Ruteng.

    Tanggal 25 Maret 1985: P. Eduardus Sangsun, SVD, ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng yang ketiga sampai sekarang ini.

    Pada masa ini dimulai secara intensif program dan strategi pastoral dalam hal pengakaran gereja di Manggarai untuk membangun gereja Katolik Manggarai yang mandiri, misioner dan memasyarakat.

    Pada masa ini pula diupayakan penyatuan visi dan persepsi tentang kemandirian paroki, restrukturisasi dewan pastoral paroki, penyempurnaan dan pemantapan perangkat-perangkat pastoral mulai dari tingkat keuskupan sampai tingkat paroki, menentukan  rumusan  arah  dasar  karya  pastoral  gereja  Katolik  Manggarai,  penegasan kembali visi dan persepsi tentang gereja yang melayani, yang harus mandiri, misioner dan terintegrasi dengan masyarakat.

    Dalam seluruh proses perkembangan sejarah gereja katolik Manggarai kegiatan penyebaran agama dari para misionaris dan Karya pastoral yang dijalankan oleh para petugas pastoral telah mendapat beberapa penekanan dan perhatian khusus. Ada perhatian secara khusus kepada para penerima pesan Injil, kepada pengalaman dan budaya serta persepsi orang Manggarai sendiri melalui usaha dari para misionaris SVD, antara lain usaha di bidang penelitian dari P. Jilis Verheijen, SVD, P. Piet de Graaf, SVD, Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD, dalam bidang liturgi/inkulturasi, dalam bidang bahasa Manggarai, dan kebudayaan (khususnya tentang perkawinan)

    Perhatian kepada masyarakat kecil orang Manggarai mendapatkan tempat khusus dan istimewa di bidang sosial dan kemasyarakatan. Pertanian, persawahan, pemasukan bibit-bibit baru pertanian (vanili, cengkeh, dll) yang dengan usaha itu meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat Manggarai, dan usaha tersebut menyebar serta merata ke seluruh wilayah Manggarai.

     

     

D. Masa Episcopat Mgr. Hubertus Leteng (2010-sekarang)

Mgr. Hubertus Leteng
Uskup Ruteng (2010 - sekarang
Moto Tahbisan:
Ut Omnes Frater Nos

Tanggal 7 November 2009, diangkat oleh Tahta Suci menjadi Uskup Ruteng.

Tanggal 14 April 2010: RM. Hubertus Leteng, Pr ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng yang keempat.

Dalam sejarah perkembangan gereja katolik Manggarai sampai saat ini terasa penting untuk mendukung kontinuitas sejarah dan kegiatan karya pastoral melalui usaha pelestarian kultur yang bersentuhan dengan usaha-usaha inkulturasi liturgi gereja, integrasi gereja katolik dalam kebudayaan, kemudian “kristenisasi” budaya dan adat istiadat sambil tidak menghapus nilai-nilai kerajaan Allah. Hal ini terasa sangat positif dan telah berkembang baik dalam usaha dan karya seorang tokoh awam, Bapak Petrus Janggur (dan kawan-kawan), salah seorang penerus karya Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD, dan P. Jilis Verheijen, SVD.

Pada saat ini, Keuskupan Ruteng terdiri atas 80 paroki yang terbagi dalam tiga wilayah kevikepan.

  1. Kevikepan Ruteng
  2. Kevikepan Borong
  3. Kevikepan Labuan Bajo

Selain para Imam Projo yang bekerja dalam berbagai bidang pastoral terdapat juga biara-biara dan tarekat-tarekat yang bersama-sama membangun gereja lokal Manggarai, baik biarawan mau pun biarawati bersama tokoh-tokoh umat dan umat seluruhnya.